Oleh : Gin gin Akil. Wapimred Wartain.com
Wartanews.org || Tertanggal 11 Januari 2025, ”pasraman dupa ayur pinukuh majapahit” di bali mengundang komunitas budaya sunda, melalui saya, untuk menjadi duta budaya nusantara ke India, dalam sebuah perhelatan agung yang dihadiri lebih dari 100 negara yaitu sekitar 250 ribu orang (para pelaku spiritual). Lalu saya sampaikan ke beberapa pihak, di komunitas budaya sunda yang masih melakukan aktivitas budaya sakral leluhur (karena yang diminta adalah pelaku seni spiritual /sakral), tapi tidak satupun yang siap, padahal yang perlu dipenuhi hanya tiket pulang pergi, itupun sudah disubsidi sebesar 30%, ditanggung konsumsi dan akomodasi sepenuhnya oleh panitia penyelenggara di India (Art of Living internatinal foundation). Karena ini kesempatan yang sangat baik dan strategis, juga menghormati sedulur Bali yang ngajen terhadap budaya sunda, saya putuskan biar saya saja yang mewakili.
Tentu saja untuk ini saya harus berusaha mencari sponsor, ke pemerintah dan beberapa tokoh yang saya nilai cukup memiliki perhatian, kaitan dengan visi Indonesia perlu membangun diplomasi budaya. Sebagai penyelenggara kegiatan Upacara Ngertakeun Bumi Lamba, yang terbuka dan memiliki semangat persaudaraan dunia, saya pikir ini akan menjadi ajang untuk mengundang seluruh perwakilan dari mancanegara. Saya mendapat dukungan dari beberapa pihak, dari Papih AW, Kolonel Denden (Kalacakra), Aam Abdul Salam (Wartain.com), Ida Ratu Sri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun (Kedatuan Kawista) dan teman teman dekat yang melakukan rereongan. Sayangnya dari Pak Dedi Mulyadi (surat resmi sudah disampaikan), sama sekali tidak ada respon apapun, karena mungkin beliau fokus menangani bencana di cisarua bandung barat, atau mungkin tidak ada wangsit untuk mendukung.
Bagaimanapun pada akhirnya semua usaha yang dilakukan membuahkan hasil, atas dasar gotong royong dari nilai persaudaraan dan visi perjuangan yang sama, saya memulai perjalanan. Kegiatan di India adalah tanggal 13-20 Februari 2025 di bangalore, salah satu kota yang besar disana. Jadi saya berangkat jalan darat ke bali sejak tanggal 11 dari purwokerto (ke sana dulu untuk dapat bantuan rereongan), dan kemudian tanggal 13 terbang ke India dari Bali, dengan jumlah rombongan 19 orang, dipimpin oleh kasepuhan pasraman jro made dwija. Sesampainya di India diorganisir untuk segalanya oleh Maha Krishnanda (saudara Bali yang sudah lebih dulu berada dilokasi), jadi total rombongan seluruhnya berjumlah 20 orang.
Selamat sampai di ashram “Art of Living”, yang luas kompleksnya kurang lebih sebesar 80 Hektar. Kami ditempatkan disebuah hotel milik ashram, dengan pembagian 3 orang perkamar (kapasitas kamar dibuat untuk 4 orang). Selama Di tempat itu, makan disediakan dalam sebuah dapur dan ruang makan yang besar, gratis, dalam keyakinan mereka makanan adalah sesuatu yang sakral, kita harus menhormatinya, seperti sebuah ritual penting., “Take what you eat and Eat what you take”. Tempat ini adalah salah satu yang terbesar di bangalore, ada beberapa guru spiritual yang terkenal di India. Mereka sangat dihormati oleh pemerintah karena kontribusinya dalam memperkuat identitas dan ekonomi India.
Ternyata, dalam 20 tahun terakhir 30% belanja internasional dibelikan untuk kegiatan spiritual. Dan karenanya ini menjadi industri yang sangat penting. Hingga saat ini 2 raksasa “industri spiritual” dipegang oleh 2 negara yaitu India dan kedua adalah Amerika (aneh ya Amerika bisa jadi nomor 2). Lalu mengapa Indonesia yang kaya akan ragam budaya spiritual akar, tidak mampu mengelolanya, karena memang secara spiritual mayoritas kita pun masih konsumtif, yaitu mengkonsumsi jalan spiritual produk bangsa atau negara lain.
Dengan tradisi mistisisme-nya sendiri, salah satu yang terbesar di India (juga dunia), kekayaan yang didapat pertahun oleh art of living adalah kurang lebih sebesar 60T rupiah pertahun.
Perjalan ke India ini, memberi sebuah pengetahuan yang inspiratif. Ketika kita (seperti india) mampu mengelola budaya akar sendiri, kita akan diberi kecukupan yang disediakan oleh nilai warisan leluhur sendiri.
Bersambung….
Editor : D.Heri


