Wartanews.org – Upaya mencegah kenakalan remaja tidak cukup dilakukan melalui penindakan setelah terjadi pelanggaran. Penguatan karakter, literasi sosial, serta kemampuan siswa memahami risiko dari setiap tindakan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman.
Perspektif tersebut menjadi perhatian Kelompok KKN 22 Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Desa Nangela saat menggelar sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Kenakalan Remaja di SMP Negeri 2 Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi itu diarahkan sebagai ruang edukasi sekaligus dialog bagi siswa untuk memahami berbagai persoalan yang dapat muncul dalam kehidupan remaja.
Narasumber dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Devi Indra Kusumah, S.Pd., M.Si., Kepala Seksi Kesiswaan dan Manajemen SMP, memaparkan sejumlah aspek yang berkaitan dengan kenakalan remaja.
Materi mencakup pengertian dan bentuk perilaku menyimpang, faktor internal maupun eksternal yang dapat memengaruhi perilaku remaja, hingga risiko perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.
Dalam pemaparannya, siswa juga diperkenalkan pada sejumlah pendekatan penanganan, mulai dari langkah pencegahan hingga penanganan ketika persoalan telah terjadi. Pendekatan tersebut menempatkan pendidikan karakter dan dukungan lingkungan sebagai bagian dari upaya membangun perilaku positif.
Kegiatan berlangsung interaktif. Siswa diberikan kesempatan menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi mengenai persoalan yang mereka temui dalam lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.
Ruang dialog dinilai penting karena masa remaja merupakan fase ketika siswa menghadapi berbagai perubahan sekaligus membutuhkan lingkungan yang dapat memberikan arahan secara proporsional.
Anggota Kelompok KKN 22 UMMI Desa Nangela, Neng Intan Nuraini, mengatakan pendidikan memiliki peran lebih luas daripada sekadar pencapaian akademik.
“Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai yang bagus, tetapi juga proses pembentukan karakter, melatih kedisiplinan, dan menjauhkan diri dari hal negatif, salah satunya yaitu kenakalan remaja,” ujarnya.
Menurut Intan, pencegahan persoalan remaja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Perguruan tinggi, sekolah, pemerintah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan ruang tumbuh yang sehat bagi peserta didik.
Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya membekali siswa agar mampu menghadapi tantangan pergaulan dan perkembangan zaman dengan sikap yang lebih kritis serta bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, KKN 22 UMMI berharap siswa dapat memahami konsekuensi dari perilaku negatif sekaligus memiliki keberanian untuk memilih tindakan yang lebih konstruktif.
Upaya tersebut pada akhirnya tidak hanya diarahkan untuk mencegah kenakalan remaja, tetapi juga membangun budaya sekolah yang mengedepankan disiplin, penghargaan terhadap sesama, keamanan, dan kenyamanan dalam proses belajar. (R.Haraqi)***
Editor : DDH













